Search

Pradita Rahman

Long Road to Heaven

Category

Resensi

99 Cahaya di Langit Eropa

Judul Novel : 99 Cahaya di Langit Eropa
Pengarang    : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit        : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan         : Ketiga, Desember 2013
Tebal              : 420 halaman

Membaca novel 99 Cahaya di Eropa mengingatkan saya pada novel-novel islami karya Habiburrahman. Sama halnya dengan novel karangan Habiburrahman, Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra berhasil membuat pembaca terhanyut dalam kisah cinta dibalutkan pengetahuan dan hukum-hukum islam yang tersusun rapi tanpa menimbulkan kesan diskriminasi terhadap agama lain.

Dalam novel ini, Hanum berhasil menyusun puzzle kisah perjalanan hidupnya selama di Eropa selagi menemani suaminya menyelesaikan pendidikan S3-nya. Puzzle yang saya maksud di sini, bukan hanya sebatas puzzle kisah-kisah hidup mereka berdua. Akan tetapi, di dalamnya Hanum juga sukses menyusun puzzle sejarah peninggalan islam di Eropa.

Hanum berhasil melukiskan kisah-kisah sejarah islam di Eropa secara runtut. Pendeskripsian latar tempat yang mengambil setting di empat negara (Spanyol, Wina, Prancis, dan Turkey) dilukiskan sangat jelas lewat rangkaian kata yang indah. Novel 99 CdLE dapat membuat kita seolah-olah berada di Eropa dan menyaksikan banyak keajaiban peninggalan islam yang anggun dan megah secara langsung. Di sini, Hanum dapat membuat pembaca mengetahui daya tarik lain mengenai benua Eropa. Tidak hanya sebatas menara Eiffel, Colloseum, atau pun tembok Berlin.

Novel 99 CdLE secara garis besar menceritakan kisah perjalanan hidup Hanum sebagai ibu rumah biasa yang kesepian saat menemani suaminya di Eropa untuk mengejar pendidikan doktoral-nya. Di tengah-tengah rasa bosan yang hanyadiisi dengan menghabiskan waktu luang untuk pergi jalan-jalan, Hanum menemukan informasi keberadaan lembaga bimbangan kursus bahasa Jerman. Di lembaga ini, ia bertemu dengan wanita keturunan Turkey yang sudah lumayan lama tinggal di Eropa dan mampu berbahasa Jerman dengan baik, yang selanjutnya menjadi sahabat Hanum. Fatma namanya. Seorang wanita dengan satu putri yang masih balita.

Di Eropa, islam adalah agama minoritas. Dengan kenyataan yang demikian, di dalam novel 99 CdLE ini, kisah Fatma dilukiskan sangat ironis. Walaupun kemampuan bahasa Jermannya jauh lebih baik dari pada Hanum, Fatma mengalami keadaan yang buruk. Ia sudah melayangkan banyak surat lamaran kerja. Namun, tak satu pun yang diterima. Alasannya satu, terletak pada hijab yang digunakan Fatma.

Selain diskriminasi akibat pemakaian hijab seperti yang dialami Fatma, suami Hanum, Rangga Almahendra juga mengalami hal yang serupa. Ia mengalami kesulitan dalam hal ibadah. Seperti pelaksanaan sholat Jumat yang selalu bertabrakan dengan jadwal kuliahnya dan ia tidak pernah mendapatkan toleransi terkait kewajiban tersebut, serta tidak bolehnya melakukan sholat wajib 5 waktu di sembarang tempat di kampusnya (hanya diperbolehkan di ruang sempit khusus ibadah yang dijadikan satu dengan tempat peribadatan agama lain).

Di dalam novel ini, yang menjadi kisah dominan bukan kisah-kisah diskriminasi yang dialami oleh tokoh-tokoh seperti yang telah saya sebutkan tadi. Hal itu hanya hadir melengkapi sebagian kecil isi dalam cerita. Yang menjadi inti cerita dalam novel ini adalah kisah perjalanan keliling Eropa yang di alami tokoh Hanum untuk melihat sejarah peninggalan islam di Eropa yang dimulainya dengan ikrar persahabatan antara Hanum dan Fatma untuk bersama-sama melihat keajaiban islam yang terdapat di empat negara. Sayangnya, Fatma hanya dapat menemani Hanum di dua negara saja karena di saat yang bersamaan ia harus dihadapkan pada kenyataan pahit. Ayse, putri semata wayangnya meninggal sehingga Fatma terpaksa kembali ke negara asalnya sebelum ia sempat menemani Hanum berkeliling Eropa sesuai janjinya. Fatma hanya menemani kisah Hanum di Wina dan Turkey.

Semua kisah ketakjuban Hanum akan islam berawal dari Kahlenberg, istana Schoenbrunn, Wien Stadt Museum, Museum Louvre, Le Grande Mosquee de Paris, Schatzkammer Museum, Mesquita-Cordoba, Istana Al-Hambra-Granada, dan Hagia Sophia. Selanjutnya, semua tempat yang menakjubkan yang menambah kecintaannya terhadap islam di Eropa akhirnya di sempurnakan di Jabal Nur-The Mountain of Light, yang menjadi pelabuhan akhir bagi Hanum dalam penjelajahannya selama 3 tahun lebih dalam mencari pertanyaan akan makna dan tujuan hidupnya. Suatu tempat yang menjadi titik awal dari semua tempat-tempat di Eropa tadi berasal. Tempat di turunkannya Al Qur’an. Titik awal kelahiran islam. Agama yang sempurna.
Dengan membaca kisah perjalanan hidup Hanum. Kita dapat mengambil pelajaran hidup berupa pentingnya merenungkan hal-hal yang terkait pencarian makna dan tujuan hidup dalam diri kita. Mengapa kita hidup dan untuk apa kita hidup. Itulah pertanyaan krusial yang sebenarnya harus ditemukan jawabannya oleh pembaca seusai membaca novel ini.

So, how about yours? Find it! Your Faith, Long Road to Heaven……

Advertisements

DWILOGI PADANG BULAN

Judul Novel : Dwilogi Padang Bulan (Padang Bulan – Cinta Dalam Gelas)
Pengarang    : Andrea Hirata
Penerbit        : PT Bentang Pustaka
Cetakan         : Pertama, Juni 2010
Tebal              : 254 + 270 halaman

Andrea Hirata merupakan novelis berbakat yang mampu menyusun imajinasi dengan menampilkan kisah-kisah yang sangat inspiratif di dalam novelnya. Dengan gaya khasnya yang selalu berusaha menertawakan kepedihan, memparodikan tragedi serta menampilkan kritikan dengan bahasa kias, ia sukses membawa para pembaca novel ini terhanyut dalam kisah yang diukiskan secara mendetail.

Unsur budaya di dalam novel ini sangat kental. Dengan membacanya, kita seolah-olah ikut merasakan keadaan dan kebiasaan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Belitong. Kita akan terhanyut mengikuti aliran cerita menuju muara yang sudah disusun apik oleh Andrea lengkap dengan konflik di sana-sininya. Penokohan dalam novel ini dilukiskan secara jelas, alurnya disusun-susun secara runtut, dan bahasa yang digunakannya pun mudah dimengerti.

Novel Padang Bulan menceritakan kisah Enong. Gadis remaja berumur 14 tahun, yang gemar mata pelajaran bahasa Inggris, namun terpaksa berhenti sekolah dan harus menjadi pendulang timah untuk mencukupi kebutuhan keluarga, ibu, beserta dua adik perempuannya. Enong menghabiskan waktunya untuk mengais rejeki di pendulangan timah. Pahit getir kehidupan masa remajanya ia lalui dengan pasrah. Jatuh, bangun, kemudan jatuh lagi. Itulah yang ia alami. Namun ia tak pernah putus asa.

Di samping kisah pilu kehidupan Enong, di dalam novel ini Andrea juga menampilkan kisah hidup Ikal beserta kecemburuannya kepada Zinar yang diduga akan mengambil A Ling, cinta pertamanya. Di sini, Andrea berhasil menampilkan kegigihan usaha Ikal guna mendapatkan kembali cinta pertama dalam hidupnya. Dibantu oleh sahabatnya, detektif kampung yang konyol seperti M. Nur menjadi teman yang baik sekaligus mata-mata pengintai yang selalu siap sedia memberikan informasi kepada ikal mengenai Zinar, banyak kisah kocak yang terjadi dan dapat menghibur pembaca. Terlebih, dalam hal ini, ada jasa seekor burung merpati bernama Jose Rizal yang mereka gunakan sebagai perantara dalam melancarkan komunikasi. Layaknya tukang pos.

Selanjutnya, di novel kedua dari Dwilogi Padang Bulan, Cinta dalam Gelas, kisah Enong lebih dijadikan cerita yang dominan dibandingkan dengan cerita kehidupan ikal. Kisah perjuangan Enong dalam memperjuangkan pengakuan persamaan gender dari mantan suaminya dikupas lebih mendalam. Di novel keduanya ini, Andrea Hirata menceritakan kehidupan dewasa dari tokoh Enong. Ia dinyatakan lulus dari lembaga bimbingan belajar bahasa inggrisnya sebagai peserta didik terbaik. Namun, di balik hal yang membahagiakan tersebut, ia harus menerima kenyataan untuk merelakan kedua adik perempuannya menikah mendahuluinya. Kemudian, tokoh Enong terpaksa menerima pinangan dari Matarom. Seorang pria yang jauh dari kriteria suami yang bertanggung jawab. Dikisahkan, usia pernikahan mereka tidak berlangsung lama. Ada banyak kekerasan yang dilakukan Matarom terhadapnya.

Di dalam novel ini diceritakan pula bagaimana kegigihan Enong mempelajari tekhnik-tekhnik catur yang didapatkan dari seorang grand master seperti Ninochka Stronovsky, pecatur wanita internasional yang sering menjuarai perlombaan catur di tingkat dunia. Hal ini merupakan usaha Enong yang dibantu oleh Ikal guna memenangkan perlombaan catur tahunan untuk mengalahkan Matarom agar dia dapat membuktikan bahwa perempuan juga memiliki hak-hak yang sama dengan kaum lelaki.

Dengan membaca dwilogi Padang Bulan, pembaca dapat memetik suatu pelajaran berharga. Kita harus memiliki impian, berusaha menggapainya, baru kemudian menikmati hasilnya. Meskipun dalam pencapaiannya kita dihadapkan pada kenyataan yang tidak kita harapkan, kita harus terus berjuang. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Jatuh, bangun, kemudian jatuh lagi, itu adalah hal yang biasa. Tergantung bagaimana usaha kita untuk melalui hal tersebut. Mengubah hal yang pahit menjadi hal yang manis.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑