Search

Pradita Rahman

Long Road to Heaven

Category

Puisi

Selamat Pagi Cinta

Dulu hingga kini 

Kau mengagumiku seolah-olah aku sebuah bintang,

Cantik, berkilau.

Penyempurna malammu.

Esok, lusa, dan seterusnya akankah kau tetap memandangku demikian?

Cantik, cerdas, idealis, menarik, aktif, berwawasan, dan mampu mengimbangi ritmemu yang gila.

Jika tak kau temui salah satu dari beberapa hal itu ada padaku, masihkah kau akan menganggapku?

Hal-hal itulah yang mungkin kau lihat dan kau kagumi dariku saat ini.

Namun bila kilauku mulai meredup, akankah rasa kagummu tetap sama?

Tidakkah kau tahu? 

Ada banyak bintang di luar sana,

Berulang kali kusarankan untuk melihatnya saja,

Tapi tak kunjung kau hiraukan juga!

Ya, bagimu akulah duniamu!

Sudah lebih dari cukup!

Ah, semakin kau meyakinkanku begitu, aku semakin ragu!

Jika aku bukanlah aku, masihkah kau akan mengagumiku sedemikian rupa?

Tahukah Engkau? 

Kau bagiku tak ubahnya sebuah meteor.

Semakin banyak hari yang kau lalui, energi yang tersimpan olehmu semakin besar.

Aku sangat tahu,

Suatu saat nanti kau akan melesat pesat dengan hebatnya,

Energimu akan membawamu sejauh yang ingin kau tuju,

Bersamamu aku cenderung takut menjadi stagnan.

Jika aku menjadi milikmu,

Masihkah kau akan setia menganggapku sebagai sebuah bintang?

Walau kutahu kupunyai sinarku sendiri, tapi aku belum yakin akulah bintang yang sedang kau tuju.

***

Note : Kecuali kamu segera gantiin cincinku yang ilang kemaren tanpa bilang ring cerutu juga bisa dipake jadi cincin di jarikuπŸ˜›πŸ˜œπŸ˜πŸ˜›

Advertisements

Untukmu yang Selama Ini Aku Tunggu

Sudah banyak hari yang aku lalui

Seringnya berteman sepi

Sesekali kuingin mereka mencari

Atau bertanya kabar walau hanya sesekali

Aku lelah terus-menerus berjuang sendiri

Meski kutahu Dia selalu menemani

Di setapak yang kulewati

Di setiap tangis yang menyayat hati

Dia mencoba membentukku menjadi insan mandiri

Namun kuhanya wanita biasa yang butuh seseorang di sisi

Yang selalu setia menemani

Menyediakan bahu untuk tempatku bersandar nanti

Tidak kah kau berniat segera menarikku dari dunia yang kurasa sepi ini?

*Bersama semua kekalutan tentang misteri hidup yang entah bagaimana 

Lelaki yang Sama

Terkadang rindu ini tak bisa dilogika

Kulepas rindu pada dia yang setiap waktu datang menemani

Sekali waktu ingin kuulang rasa dimana kita terpisah oleh jarak ribuan kilo

Menikmati hembusan angin sembari menulis semua tentangnya

Ah, tak terasa 4 tahun nyaris kita lewati berdua

Akankah lima atau sepuluh tahun lagi rindu ini masih tetap padanya?

Pada lelaki yang sama

Pada satu nama yang beberapa bulan ini selalu kurapal dalam setiap doa

Satu nama yang membuatku berani merajut asa

Hingga akhir-akhir ini aku terlalu berharap pada satu kemungkinan yang kian lama ingin segera kumungkinkan

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑