Search

Pradita Rahman

Long Road to Heaven

Category

Jember

Di sini kalian bisa menemukan segala hal tentang Jember. Kota kelahiran saya. Penasaran?? Yuk, Kepoin aja!!

Jambu Jamaika – Sektor Pertanian yang Akan Terus Dikembangkan di Desa Pontang – Kecamatan Ambulu

image
Jambu Jamaika

Berawal dari informasi yang kami dapat dari hasil rapat dengan pihak LKM Desa Pontang bahwa ada salah satu produk unggulan di Desa Pontang yang saat ini mampu menembus pasaran beberapa supermarket di Jember, kemarin (Kamis, 4 September 2014) kami memutuskan untuk menemui Bapak Mislan selaku pemilik kebun jambu jamaika di kediamannya yang terletak di Dusun Pontang Tengah. Awalnya, tanpa mencoba mencari informasi dari situs yang ada di internet, yang ada di bayangan kami setelah mendengar nama jambu jamaika adalah sejenis jambu biji impor. Tapi, ternyata jambu jamaika yang dimaksud adalah salah satu jenis jambu air lokal yang berwarna merah kehitaman, rasanya manis dengan aroma yang khas, serta ukuran yang lumayan besar. Satu buah jambu jamaika memiliki berat bersih sekitar 7 ons jika telah masak.

Ide awal penanaman jambu jamaika yang dilakukan oleh Bapak Mislan muncul sekitar 3 tahun yang lalu saat beliau mengunjungi sebuah pameran di Jakarta di sela-sela waktu senggangnya sebagai seorang konstruktor. Waktu itu, beliau melihat pohon jambu jamaika yang ditanam di sebuah pot berbuah cukup banyak dengan ukuran yang lumayan besar. Melihat hal tersebut, beliau tertarik untuk mengembangkan jambu jamaika di tempat asalnya, yaitu di Desa Pontang karena di Pontang sendiri beliau belum pernah menjumpai jenis jambu air ini.

Setelah pameran tersebut usai, Bapak Mislan memesan bibit jambu jamaika secara langsung di Jawa Barat. Saat itu, beliau memesan bibit sebanyak 22 pohon dengan tinggi sekitar 1,2 meter dan harga Rp 125.000,00/ pohon. Harga tersebut belum termasuk ongkos kirim dari Jawa Barat ke Jember.

Setibanya bibit-bibit jambu Jamaika tersebut di Desa Pontang-Ambulu, Bapak Mislan langsung menanam bibit jambu tersebut di kebun miliknya. Penanaman jambu ini tidak terlalu sulit. Perawatannya pun demikian. Bapak Mislan menanam jambu jamaika miliknya di kebun yang juga ditanaminya dengan cabe dan kedelai. Untuk pemupukannya dilakukan setiap 4 bulan sekali. Pupuk yang digunakan oleh Bapak Mislan adalah pupuk organik hasil buatannya sendiri. Untuk merawat jambu-jambu jamaika yang ditanam di kebunnya tersebut Bapak Mislan menggunaklan jasa seorang pekerja yang bertugas untuk mengairi, memupuk, dan membungkus buah dari jambu jamaikanya itu.

Jambu jamaika yang dimiliki oleh Bapak Mislan tidak pernah menggunakan peptisida. Sejauh ini tidak pernah ada hama yang menyerang tanaman jambu jamaika miliknya. Hanya saja, jika telah berbuah, buah jambu jamaika harus dibungkus plastik agar tidak dimakan kelelawar karena karakteristik yang dimiliki oleh jambu ini salah satunya adalah memiliki aroma yang cukup khas sehingga mampu menarik perhatian dan penciuman kelelawar.

Sejak 1 tahun yang lalu, Bapak Mislan telah memasuki masa panen. Masa panen jambu jamaika ini tidak pernah bermusim atau dapat dikatakan terus menerus. Kalau pun berjeda, jedanya mungkin hanya sekitar 1 bulan. Masa produksinya pun dapat tergolong cukup lama, yaitu sekitar 30-40 tahun. Dengan 22 pohon jambu jamaika yang Bapak Mislan miliki di kebunnya, setiap 3 hari sekali Bapak Mislan mampu memanen sekitar 60 kg jambu jamaika. Hasil panennya biasa dijual di dua tempat, yaitu beberapa supermarket di Jember dan di tempat teman baiknya yang berada di daerah Ambulu.

Di beberapa supermarket di Jember Bapak Mislan mampu menjual jambu jamaikanya dengan kisaran harga 20-25 ribu rupiah per kilonya. Sedangkan di temannya yang ada di daerah Ambulu, beliau menjual jambu jamaikanya dengan harga Rp 17.000,00/kg (KUALITAS B/sortir). Untuk di Beberapa supermarket di sendiri, permintaan yang ada cukup banyak. 60 kg jambu jamaika mampu dijual hanya dengan kisaran waktu dua jam.

Beberapa supermarket meminta pasokan jambu jamaika dengan jumlah yang sangat besar. Akan tetapi, saat ini Bapak Mislan tidak pernah sanggup memenuhi permintaan tersebut mengingat setiap tiga hari sekali beliau hanya mampu memanen jambu jamaika dengan total sekitar 60 kg saja.

Hambatan yang dimiliki Bapak Mislan sejauh salah satunya adalah ketidakmampuannya untuk mengembangkan bibit jambu jamaika yang dimiliki. Menurut Bapak Mislan, informasi yang ada di buku atau pun di internet yang pernah dibacanya tidak pernah sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Menurut buku dan internet, cara pengembangbiakan jambu jamaika dapat dilakukan dengan ovulasi dan cangkok. Jika dikembang-biakkan dengan cara menanam bijinya, buah yang dihasilkan tidak akan sama dengan induknya. Hanya saja, walaupun sudah ada informasi seperti itu, sejauh ini Bapak Mislan belum mampu melakukan ovulasi atau pun menyangkok jambu jamaika yang dimilikinya. Padahal hal tersebut telah dilakukan sesuai dengan petunjuk yang ada.

Bukan hanya Bapak Mislan yang berupaya dan tertarik untuk mengembangkan jambu jamaika, selama 3 bulanan ini ada beberapa mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Jember yang membantu Bapak Mislan untuk meneliti bagaimana cara mengembangkan bibit jambu jamaika yang dimilikinya.

Bapak Mislan rela mengorbankan 2 pohon jambu jamaikanya untuk diteliti. Sayangnya hingga detik ini upaya untuk mengembangkan bibit jambu jamaikanya tersebut sama sekali belum membuahkan hasil.

Keingininan Bapak Mislan untuk dapat mengembangkan bibit jambu jamaika secara mandiri dikarenakan harga beli bibitnya saat ini cukup mahal. Itu pun hanya bisa dipesan di Jawa Barat, tempat dimana dulu beliau membeli bibit jambu tersebut.

Bapak Mislan ingin mengembangkan bibit jambu jamaika secara mandiri untuk membantu petani di Desa Pontang karena permintaan pasar akan jambu ini cukup tinggi. Hal tersebut dilakukan agar tidak timbul ketergantungan kepada pemilik bibit jambu jamaika yang ada di Jawa Barat. Bapak Mislan berkeinginan untuk mengembangkan bisnis ini dengan menggandeng petani di Desa Pontang jika beliau telah mampu mengembangkan pembibitan jambu jamaika miliknya tersebut di kemudian hari.

Menurut penuturan yang kami dapatkan dari Bapak Mislan, selama ini petani di Desa Pontang berpenghasilan cukup minim. Bahkan ada yang hanya berpenghasilan sebesar Rp 180.000,00 setelah 3 bulan bersusah payah menanam dan merawat kedelai. Oleh karena itu, Bapak Mislan sendiri berkeinginan agar hasil usahanya dengan menanam jambu jamaika mampu dinikmati oleh petani sekitar.

Bapak Mislan berharap keinginan untuk dapat mengembang-biakkan jambu jamaika yang dimilikinya dapat segera terwujud. Bagi pihak mana pub yang tertarik mencoba dan meneliti bagaimana cara pengembang-biakan jambu jamaika yang dimilikinya, Bapak Mislan akan menerimanya dengan tangan terbuka. Sayang saja kami semua yang tadi sempat menikmati dan memetik langsung buah jambu jamaika di kebun milik Bapak Mislan adalah makhluk-makhluk ekonomi yang mungkin tidak sebegitu ahli dalam mengembang-biakkan tanaman. Kalau tidak, mungkin kami sudah membantu Bapak Mislan meneliti bagaimana cara mengembang-biakkan jambu jamaikanya tersebut.

**Tulisan ini adalah salah satu artikel opiniku saat mengikuti Kegiatan Kuliah Kerja Usaha (KKU) STIE Mandala Jember. Kutulis pada tanggal 4 September 2014 malam. Sehari setelahnya, kelompok KKU-ku di desa Pontang ada jadwal kegiatan mengunjungi kebun jambu Jamaika milik bapak Mislan. Saat berada di tengah kebun jambu itu, sekitar pukul 9 pagi aku mendapat kabar via telepon dari kampus. Salah satu dosenku yang menginformasikan bahwa aku lolos seleksi beasiswa unggulan BPKLN Kemdikbud RI dan sudah harus ada di Bangkok pada tanggal 12 September 2014. Hanya seminggu setelah hari di mana aku menginjakkan kaki di kebun jambu jamaika tersebut! What a beautiful moment that was!! Setelah sekian lama, gak nyangka juga kutemui tulisan ini kemuat di situs resmi desa Pontang – Ambulu berikut :

http://pontang.desa.id/

Puger

Salah satu daerah unggulan di Kabupaten Jember adalah Puger. Daerah ini terletak 15 Km dari Kecamatan Ambulu. Tempat ini adalah salah satu daerah wisata di Kabupaten Jember yang banyak dikunjungi oleh banyak orang. Terutama bagi mereka yang hobi memancing.

Di daerah Puger terdapat pantai dan TPI (Tempat Pelelangan Ikan) yang menjual ikan hasil tangkapan nelayan. Untuk TPI-nya sendiri, meski dikenal dengan nama Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger, tempat yang berada di dalam kompleks Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Puger ini sepertinya masih belum berfungsi maksimal sebagai tempat untuk melelang ikan. TPI Puger hanya digunakan sebagai tempat jual beli ikan. Bisa dibilang pasar lah!

Selain TPI, ada juga wisata Pantai Puger yang menawarkan Cagar Alam Puger Watangan dengan pesona sumber air Kucur. Untuk mencapai lokasi tersebut, kita dapat menyewa perahu. Tarif yang dikenakan biasanyanya sekitar Rp 10.000,- s/d Rp 20.000,-/orang dengan kapasitas minimal sebanyak 5-10 orang.

Sore kemarin, aku dan keluarga sempat meluangkan waktu mengunjungi TPI Puger. Entah ada angin apa Ibuku malah ngajakin ke sana. Dalihnya mengisi hari libur sekalian piknik dan cari ikan.

Berkat ajakan Ibuku tersebut, aku bisa motretin suasana di sekitar TPI Puger. Ini dia penampakannya :

image
Rame banget kan??

image
Bapak, adik, dan Ibu yang lagi candid. Hihi 🙂

TPI Puger menjadi tempat yang paling recommended untuk berburu ikan segar, seperti ini :

image
Ikan segarnya menggiurkan kan?

Yang paling kusuka saat berkunjung ke sini adalah ngamatin transaksi tawar-menawar antara penjual dan pembeli.
image
Tiap harinya pasti dipadati pengunjung.

Well, meskipun berupa TPI, di sisi lainnya ada yang lebih istimewa dari pada sekedar kegiatan tawar-menawar ikan segar, tempat ini memiliki view yang sangat sayang untuk dilewatkan. Gak percaya?? Ini dia buktinya :

image
Abaikan yang pakai baju pink. Liatin background fotonya saja ya! Hihi.

image
Bukit kucur yang mulai berkabut indah banget kan?

Di sini, kita bisa berburu pemandangan twilight yang indah banget.
image
Suka banget dipotret ala-ala siluet. Meskipun senjanya tanggung.

image
Senja yang mempesona kan? Pasti betah berlama-lama di sini.

Gambaran Geografis Kota Jember

Hari ini entah ada angin apa aku pengen banget nulisin tentang Jember. Jember adalah kota kelahiranku. Kota terpadat ke tiga di Jawa Timur setelah Surabaya dan Malang. Meskipun padat, kota ini masih cukup asri. Gak percaya?? Yuk, siapin planning buat ngunjungin Jember!

Ada banyak banget yang bisa dibahas tentang Jember. Dari mulai penduduk, kebiasaan, jajanan asli, produk unggulan, destinasi wisata, Jember Fashion Carnival (JFC), dan lain-lain. Gak mungkin aku bahasin itu sekaligus dalam satu postingan. Hihihi. Jadi, sabar ya, satu-satu aja.

Hari ini aku pengen bahasin keadaan geografis kota kelahiranku. Kenapa harus topik kayak ginian? Ada yang bisa nebak gak? Hihi. Ok lah aku jawab sendiri! Kali ini pertama kalinya aku nge-post tentang Jember. So, kalian harus bisa ngebayangin kayak apa kota Jember!

Jember memiliki luas 3.293,34 Km2. Ketinggiannya antara 0 – 3.330 mdpl. Iklim di Kabupaten Jember adalah tropis. Kisaran suhunya antara 23 – 32 derajat celcius. Dengan kisaran suhu yang seperti itu, gak salah kan kalau aku mengategorikan kota Jember masih asri?? Alun-alun kotanya aja asri banget. Beneran!

image
Ini nih alun-alun kota Jember di malam hari. Bagus kan?

Bagian selatan wilayah Kabupaten Jember adalah dataran rendah dengan titik terluarnya adalah Pulau Barong. Udah Pernah dengar tentang pulau Barong gak? Kalau belum, tenang aja, aku sendiri pun masih belum ke sana. Tapi, kalau kalian pengen tahu, kalian bisa search sendiri dengan menanyakannya langsung pada mbah google. Ok?? Hehehe. Lanjut, yuk! Pada kawasan ini terdapat Taman Nasional Meru Betiri yang berbatasan dengan wilayah administratif Kabupaten Banyuwangi. Kalau kawasan Meru Betiri pasti udah pada tahu. Minimal udah pernah dibaca di buku paket IPS di zaman-zaman SD atau SMP. Kalau belum pernah baca, berarti kalian harus bongkar buku IPS kalian lagi. Hihi.

Ada pantai indah di Jember yang ada di kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Bandealit namanya. Penasaran? Ayo ke Jember!

Bagian barat laut daerah Jember (berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo adalah pegunungan, bagian dari Pegunungan Iyang, dengan puncaknya Gunung Argopuro (3.088 m). Sekedar Informasi nih ya, di sekitar Argopuro banyak tempat yang indah. Para pencinta alam pasti sudah pada tahu. Penasaran? Kepoin di mbah google! Dita memang pengen kalian penasaran kok!

Bagian timur merupakan bagian dari rangkaian Dataran Tinggi Ijen. Pernah ke Ijen belum? Kalau belum kalian harus buruan ke sana! Pemandangannya bagus banget! Aku aja udah pernah. Bahkan udah nyampe ke kawahnya. Recommended banget jika mendaki dengan orang yang spesial. Hehehe. Gak percaya? Ini nih penampakan gambar yang bisa diambil di Kawah Ijen :

image
Abaikan modelnya, Kawan! Kami berdua memang terlalu berambisi menjadi model kalender. Hihi

Jember memiliki beberapa sungai antara lain Sungai Bedadung yang bersumber dari Pegunungan Iyang di bagian Tengah, Sungai Mayang yang bersumber dari Pegunungan Raung di bagian timur, dan Sungai Bondoyudo yang bersumber dari Pegunungan Semeru di bagian barat. Untuk masalah sungai ini, aku agak keki sendiri. Sungai yang masih bagus hanya yang ada di daerah pedesaan. Kalau yang udah masuk di daerah kota yang padat penduduk, sungainya udah pada tercemar dengan berbagai macam sampah yang enggak banget! Maka dari itu, aku himbau bagi kalian yang baca postingan ini untuk tidak membuang sampah sembarangan! Kalau ingin buang sampah sembarangan, jangan dibuang ke sungai. Buang di depan rumah kalian aja gimana??

Aku rasa sekian dulu pengenalan tentang Jembernya. Lain kali aku lanjutin pembahasan tentang Jember dari kaca mata yang berbeda. Kalau masih penasaran, kepoin di mbah google yak?

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑