Search

Pradita Rahman

Long Road to Heaven

Memori Tentang Dilan

Ini tentang sebuah cerita, gak sefenomenal cerita cinta antara Dilan & Milea di tahun 1990. Tapi, kalau suatu saat nanti aku bisa seperti Pidi Baiq yang bisa melahirkan buku best seller macam Dilan 1990 yang filmnya sukses bikin baper para ABG di seantero Indonesia, termasuk juga kids jaman old macam aku, pastilah akan kutulis. 

Jadi begini, ada seorang eks teman kuliahku ngebet banget pengen nonton film Dilan. Dari tanggal 25 Januari, rencana nonton kami selalu terkendala. Mulai yang cuaca gak mendukung, temen yang lembur, sampai yang selalu kehabisan tiket! Bayangin aja, meskipun udah di hari ke lima penayangan filmnya, semua tiket ludes dalam sekejap! 

Gara-gara gemes, berhubung kantorku hanya berjarak 20 langkah dari pintu masuk bioskop, ya udah deh, dibela-belain meskipun tadi pagi sempat ada anak yang mau walk in interview di tempat kerjaku, kutinggal aja tuh anak ke OB kantorku buat diawasi saat kerjain psikotes di ruang tunggu kantor hanya demi beli tiket nonton film Dilan! (Pliiiis…. tingkah lakuku yang ini jangan ditiru! Film Dilan ini kuakui sungguh sudah berhasil merusak profesionalitas akuuuhhhh. hiks…)

Time flies so fast, pas udah jam nontonnya tiba, aku, temanku, dan juga Tiul duduk manis di kursi yang udah aku pilih. Baper selama nonton, pasti! Bahagia, pasti! Ketawa, jangan tanya! Wkwkwk. Penasaran kan? Maaf aku mah gak mau spoiler di sini, silahkan pergi ke bioskop terdekat!😝

Pas udah selesai nonton, Tiul udah maen tinggalin aku aja, nganterin temenku yang paling beruntung itu! Jarang-jarang aku mau berbagi si Tiul dengan orang lain! Wkwkwk. Untunglah aku strong. Menunggu seseorang menjelang tengah malam…Ah,,,, kutahu ini berat, biar aku saja, sudah biasa!

1, 2, 3.. 10… 15 Menit

WA berbunyi nyaring…

Motor mogok, terus gimana?

Ketawa kecut deh akuuuuuuuuuuu… 

Sebelum Tiul nganter temenku itu, mulutku gak sengaja nyeplos, “kayak mau mogok!” Abrakadabraaaaaa terjadilah sungguhan! Hal yang memaksaku buat nyamperin Tiul di rumah temen yang kumaksud.😝

Sungguh, seusai nonton film Dilan, aku berhasil dibuat lebih baper lagi! Yupsss, drama tengah malam bersama Tiul ngedorong motor beberapa menit menjelang 1 Februari 2018! (read : dari daerah Gebang ke kosanku di Jalan Sumatera. Bagi kalian yang asli Jember mungkin bisa membayangakan betapa so sweet-nya adegan yang kami alami. Tak kalah romantis dengan beberapa scene yang ada di film Dilan) Of course, dengan dibantu temanku yang itu!

Advertisements

Postingan Perdana di 2018

Coba tebak apa yang kumaksud dengan benda mungil itu… 

Saat Aku Ingin

Mendengarkanmu bicara padaku dan membalasnya adalah candu. Seperti malam ini, saat kita membahas tentang cincin yang entah fungsinya untuk cincin apaan! Tunangan kah atau nikah kah? Aku tak tahu dan tak ingin buru-buru tahu!

“Aku kok pengen pizza ya?” kataku memulai pembicaraan di tengah makan malam kita di warung makan langganan sambil nunjukin gambar pizza home made milik teman kuliahku.

“Gak ada yang bisa ngalahin pizza hut” katamu tak mau kalah.

Mungkin pembicaraan kita membekas di memorimu. Kontan saja saat pulang dan melewati alun-alun kota, kamu nyempetin mengerling ke arah pizza hut. OMG!

“Udalah tunggu proyekanmu kelar, baru kita makan di sana. Tapi, kalau proyekanmu kelar aku gak mau minta pizza sih. Aku maunya cincin!” kata-kataku mungkin setengah meledek.

“Ney, kamu mau beli besok tah? Aku udah ada uangnya tinggal kamu pakai. Daripada kamu terus merengek-rengek gitu”

“Gak mau. Gak seru kalau langsung dapat. Justru seninya ya menunggu sama merengek gini”

“Ya sudah terserah kamu aja, daripada kamu terus penasaran, kan mending langsung beli aja besok? Mau langsung dipakai tah?”

“Enggak lah. Disimpen di rumahmu. Titip. Biar gak kegores-gores. Aku gak mau beli dulu. Dibilangin nanti aja habisnya pelunasan proyekan barumu. Biar seru. Ga seru kan kalau langsung dapat?!”

Entah apa yang ada di pikiranmu saat aku menjawab begitu. Mungkin di kepalamu sempat terlintas bahwa aku adalah salah satu spesies aneh di muka bumi. Sungguh, kalau itu yang memang kamu pikirkan, aku gak apa! Yang jelas, kamu mau aku dan aku sangat berterima kasih untuk itu! Hehehe.

Blog at WordPress.com.

Up ↑